Category : Informasi | Sub Category : Umum Posted on 04-Mar-2026 08:15:28
Lonjakan transaksi digital selama Ramadan hingga menjelang
lebaran kembali diiringi peningkatan risiko kejahatan siber. Direktur Eksekutif
Information and Communication Technology Institute (ICT) Heru Sutadi
mengungkapkan modus penipuan atau scam berkedok zakat, promo Ramadan,
hingga tunjangan hari raya alias THR diprediksi marak seiring tingginya
aktivitas belanja online, donasi daring, hingga pemesanan perjalanan. “Pelaku
memanfaatkan momentum ini dengan phishing bertema promo Ramadan, zakat, atau
THR,” kata Heru kepada Katadata.co.id, Senin (2/3).
Phishing merupakan teknik kejahatan siber yang menyamar
sebagai pihak terpercaya untuk mengelabui korban agar memberikan informasi
sensitif. Hal ini seperti kata sandi, data kartu kredit, atau one time password
(OTP). “Semakin tinggi intensitas berbagi data dan transaksi, semakin besar
pula permukaan serangan,” ujarnya.
Heru mengatakan, jika literasi keamanan digital rendah dan
proteksi platform lemah, maka potensi kebocoran data bisa meningkat dibanding
periode normal. Ia menjelaskan, secara umum, kapasitas infrastruktur keamanan
digital Indonesia terus berkembang. Hal ini baik di sektor perbankan, financial
technology (fintech), maupun e-commerce.
Namun, Heru memperingatkan lonjakan trafik musiman tetap
menjadi tantangan. Hal ini terutama bagi pelaku usaha kecil dan platform dengan
sistem keamanan belum matang. Serangan seperti distributed denial-of-service
(DDoS), credential stuffing, hingga phishing massal cenderung meningkat ketika
volume transaksi melonjak. Ketimpangan tingkat keamanan antarplatform pun masih
menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku.
Selain itu, ancaman fake BTS yang digunakan untuk
menyebarkan SMS penipuan juga dinilai masih menjadi persoalan serius karena
memungkinkan pelaku mengirim pesan scam secara masif tanpa terdeteksi jaringan
resmi operator. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga sebelumnya
sudah memperingatkan bahwa menjelang Lebaran, kasus scam hampir selalu
meningkat. Ia memastikan, pemerintah juga menyiapkan langkat mitigasi, termasuk
penindakan terhadap modus penipuan yang beredar melalui SMS, WhatsApp, maupun
platform online lainnya.
“Tentu yang namanya mau Lebaran itu pasti scam akan
bertambah. Termasuk fake BTS itu juga kita akan memitigasi. Untuk e-commerce
tentu belanjanya di situs-situs yang memang sudah terpercaya,” kata Meutya. Spesialis
Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan pergeseran transaksi
dari toko fisik ke e-commerce membuat nilai dan risiko aset digital ikut
meningkat signifikan.
“Dengan adanya digitalisasi artinya transaksinya makin
besar, lalu peluang dan risikonya makin besar juga kan. Jadi ini yang
perlu disadari masyarakat bahwa sekarang transaksi e-commerce ini menjadi
sesuatu yang sangat penting dan menjadi modal yang sangat signifikan,”
kata Alfons kepada Katadata.co.id. Menurut Alfons, masyarakat kini memiliki
aset digital yang harus dijaga layaknya aset finansial. Aset itu mencakup akun
email, media sosial, akun e-commerce, hingga mobile banking dan internet
banking.
Karena itu, ia menekankan pentingnya perlindungan berlapis,
minimal dengan mengaktifkan one-time password (OTP) atau two-factor
authentication (TFA). “Jadi dengan perlindungan ini kalau andaikan password
jebol karena satu dan lain hal, akun tetap tidak bisa diambil alih,”
ujarnya. Selain itu, situs phishing masih menjadi ancaman yang paling sering
memakan korban.
Pelaku kerap merekayasa tampilan situs yang sangat mirip
dengan aslinya untuk menipu korban agar memasukkan kredensial atau data
perbankan. Kedua pakar ini sepakat, pencegahan tidak hanya bergantung pada
sistem, tetap juga kewaspadaan pengguna. Berikut langkah yang bisa dilakukan
masyarakat:
RINGKASAN: