Category : Informasi | Sub Category : Umum Posted on 10-Jul-2026 12:09:16
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia atau Mastel
Sarwoto Atmosutarno menilai Indonesia perlu mulai mempersiapkan fondasi
pengembangan teknologi jaringan seluler 6G. Hal ini mengingat tingkat adopsi
layanan 5G di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Menurut Sarwoto, lambatnya adopsi 5G dapat menjadi momentum bagi Indonesia
untuk mulai menyiapkan teknologi 6G.
"Kalau 5G lelet-lelet, lari ke 6G tidak ada masalah.
Loncat saja. Tergantung nanti kebutuhan pasar dan keekonomiannya," kata
Sarwoto seusai Seminar & Workshop Nasional bertema Nilai Strategis Nasional
TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G
di Indonesia di Jakarta, Kamis (9/7). Cakupan jaringan 5G di Indonesia saat ini
masih di bawah 10%. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi
dan Digital atau Komdigi Edwin Hidayat Abdullah sebelumnya mengatakan pemerintah
menargetkan cakupan jaringan 5G meningkat menjadi 80% pada 2030.
"Hari ini sebenarnya sedang menawar harga untuk
frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Artinya akan masuk ke era 5G. 5G Indonesia saat
ini di bawah 10%, tetapi akan segera naik sampai 80% pada tahun 2030,"
kata Edwin dalam Indonesia Digital Banking Summit 2026 di Jakarta, Selasa
(7/7). Data yang disampaikan pemerintah sebelumnya menunjukkan cakupan 5G
Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan jaringan 4G. Direktur Jenderal
Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto pada Juli 2025 menyebut cakupan
5G berdasarkan jumlah populasi baru mencapai 8,92%.
Sementara itu, luas permukiman yang tercakup sinyal 5G hanya
4,4%. Angka tersebut jauh di bawah cakupan jaringan 4G yang telah mencapai 97%.
"Untuk 5G saat ini datanya berdasarkan jumlah populasi sebesar 8,92%.
Kalau luas permukiman ter-cover sinyal 5G hanya 4,4%. Memang masih sangat
rendah dibanding dengan 4G yang sudah mencapai 97%," kata Wayan, dikutip
dari ANTARA.
Mastel: Indonesia Perlu Bersiap Adopsi 6G Sarwoto mengatakan
persiapan menuju 6G perlu dilakukan mulai sekarang agar Indonesia memiliki
waktu yang cukup untuk menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung ketika teknologi
tersebut mulai diterapkan secara global. "Kalau kita tidak rencanakan dengan baik,
tahu-tahu lingkungan internasional sudah siap, sementara kita baru mulai
mempersiapkan," ujarnya. Ia menjelaskan, upaya menyiapkan 6G bukan berarti
Indonesia mengesampingkan pembangunan jaringan 5G yang saat ini masih terus
berkembang.
Menurut Sarwoto, hal terpenting yakni menyiapkan
infrastruktur dasar berupa ketersediaan spektrum frekuensi yang dapat
dimanfaatkan untuk berbagai teknologi telekomunikasi, termasuk 5G dan 6G.
"Kalau jalan rayanya sudah ada, nanti tergantung mau dipakai teknologi apa
di atasnya. Bisa 5G, bisa nanti langsung berkembang ke 6G," kata Sarwoto.
Ia menambahkan, pengembangan jaringan oleh operator telekomunikasi tetap akan
mempertimbangkan kebutuhan pasar dan kelayakan bisnis.
Investasi pembangunan jaringan 5G secara masif saat ini
dinilai belum sepenuhnya menarik karena jumlah pengguna perangkat yang
mendukung jaringan generasi kelima tersebut masih relatif sedikit. Selain itu,
Sarwoto menilai tantangan lainnya yakni belum banyak pemanfaatan teknologi 5G
di berbagai sektor industri. Menurut dia, adopsi teknologi baru akan berkembang
apabila mampu memberikan nilai tambah bagi dunia usaha maupun masyarakat.